Sabtu, 08 Juni 2013

Teori


Latar Belakang

Latar belakang adalah dasar atau titik tolak untuk memberikan pemahaman kepada pembaca atau pendengar mengenai apa yang ingin kita sampaikan. Latar belakang yang baik harus disusun dengan sejelas mungkin dan bila perlu disertai dengan data atau fakta yang mendukung. Beberapa hal yang terdapat dalam latar belakang adalah:
  1. Kondisi ideal mencakup keadaan yang dicita-citakan, atau diharapkan terjadi. Kondisi ideal ini biasa dituangkan dalam bentuk visi dan misi yang ingin diraih. 
  2. Kondisi aktual merupakan kondisi yang terjadi saat ini. Biasa menceritakan perbedaan situasi antara kondisi saat ini dengan kondisi yang dicita-citakan terjadi. 
  3. Solusi merupakan saran singkat atau penawaran penyelesaian terhadap masalah yang dialami sebelum melangkah lebih lanjut ke pokok bahasan.
Rumusan Masalah

Rumusan masalah berbeda dengan masalah. Kalau masalah itu berupa kesenjangan antara yang diharapkan dengan apa yang terjadi, maka rumusan masalah itu merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data. Perumusan masalah merupakan salah satu tahap di antara sejumlah tahap penelitian yang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. Tanpa perumusan masalah, suatu kegiatan penelitian akan menjadi sia-sia dan bahkan tidak akan membuahkan hasil apa-apa.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perumusan masalah yaitu:
  1. Dirumuskan secara jelas, 
  2. Menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternaatif tindakan yang akan dilakukan, 
  3. Dapat diuji secara empiris,
  4. Menggandung deskripsi tentang kenyataan yang ada dan keadaan yang diinginkan, 
  5. Disusun dalam bahasa yang jelas dan singkat, 
  6. Jelas cangkupannya Memungkinkan untuk dijawab dengan mempergunakan metode atau teknik tertentu. 
Batasan Masalah

Dalam malaksanakan penelitian diperlukan keteraturan permasalahan yang akandibahas, untuk itu perlu ada penegasan masalah yang sekalipun dapat memberikangambaran kearah proses pemecahan masalah.Seperti yang dikemukan oleh Winarno Surakhmad bahwa : memiliki masalahyang telah dirumuskan dengan jelas adalah suatu kondisi yang mempunyai fungsitersendiri, yaitu :
  1. Ia memungkinkan peneliti untuk mulai menyusun laporan penelitian. 
  2. Ia memungkinkan peneliti untuk mulai membuat rencana pemecahan. 
  3. Ia memungkinkan peneliti untuk mengetahui apakah problem itu akhirnyaterpecahkan dengan baik atau tidak.
Tujuan Penelitian

     Tujuan penelitian yaitu memuat uraian yang menyebutkan secara spesifik maksud atau tujuan yang hendak dicapai dari penelitian yang dilakukan. Maksud-maksud yang terkandung di dalam kegiatan tersebut baikmaksud utamamaupun tambahan, harus dikemukakan dengan jelas.
     Cara yang relative mudah untuk menulis tujuan penelitian adalah menghubungkannya dengan rumusan masalah yang telah dibuat. Rumusan masalah berupa kalimat pertanyaan, jadi tujuan penelitian tulislah dengan hasil yang ingin dicapai dari rumusan masalah tersebut.

Manfaat Penelitian

     Setiap hasil penelitian pada prinsipnya harus berguna sebagai penunjuk praktek pengambilan keputusan dalam artian yang cukup jelas. Manfaat tersebut baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan, manfaat bagi obyek yang diteliti, maupun manfaat bagi peneliti sendiri.

 
Hipotesis

Hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya. Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang kan diteliti. Hipotesis menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul tidak bertentangan dengan hipotesis tersebut. Dalam upaya pembuktian hipotesis, peneliti dapat saja dengan sengaja menimbulkan atau menciptakan suatu gejala. Kesengajaan ini disebut percobaan atau eksperimen. Hipotesis yang telah teruji kebenarannya disebut teori.
Fungsi penting hipotesis di dalam penelitian, yaitu:
  1. Untuk menguji teori,
  2. Mendorong munculnya teori,
  3. Menerangkan fenomena sosial,
  4. Sebagai pedoman untuk mengarahkan penelitian,
  5. Memberikan kerangka untuk menyusun kesimpulan yang akan dihasilkan.
Landasan Teori

Mengemukakan kaidah-kaidah keilmuan, dalil-dalil, ketentuan, konsep-konsep yang dijadikan dasar acuan dalam menyelesaikan masalah atau menciptakan karya teknologi. Landasan teori diperoleh dari kajian pustaka dengan  cara memilih-milih, membanding-bandingkan dan membahasnya secara kritis, bukan sekadar  soal “kutip-mengutip”. Cantumkan referensi yang digunakan. Landasan teori diangkat (disarikan) dari tinjauan pustaka tentang kerangka teori yang melatarbelakangi (menjadi landasan) bagi permasalahan yang diteliti. Landasan teori merupakan satu set teori yang dipilih oleh peneliti sebagai tuntunan untuk mengerjakan penelitian lebih lanjut dan juga termasuk untuk menulis hipotesis. Landasan teori dapat berbentuk uraian kua-itatif, model matematis, atau persamaan-persamaan.

Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian adalah sekumpulan peraturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu. Metodologi juga merupakan analisis teoritis mengenai suatu cara atau metode. Penelitian merupakan suatu penyelidikan yang sistematis untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan, juga merupakan suatu usaha yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan jawaban.  Hakekat penelitian dapat dipahami dengan mempelajari berbagai aspek yang mendorong penelitian untuk melakukan penelitian. Setiap orang mempunyai motivasi yang berbeda, di antaranya dipengaruhi oleh tujuan dan profesi masing-masing. Motivasi dan tujuan penelitian secara umum pada dasarnya adalah sama, yaitu bahwa penelitian merupakan refleksi dari keinginan manusia yang selalu berusaha untuk mengetahui sesuatu.  Keinginan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan merupakan kebutuhan dasar manusia yang umumnya menjadi motivasi untuk melakukan penelitian.

Data
  • Pengertian Data
Data adalah catatan atas kumpulan fakta. Data merupakan bentuk jamak dari datum, berasal dari bahasa Latin yang berarti "sesuatu yang diberikan". Dalam penggunaan sehari-hari data berarti suatu pernyataan yang diterima secara apa adanya. Pernyataan ini adalah hasil pengukuran atau pengamatan suatu variabel yang bentuknya dapat berupa angka, kata-kata, atau citra.
Dalam keilmuan (ilmiah), fakta dikumpulkan untuk menjadi data. Data kemudian diolah sehingga dapat diutarakan secara jelas dan tepat sehingga dapat dimengerti oleh orang lain yang tidak langsung mengalaminya sendiri, hal ini dinamakan deskripsi. Pemilahan banyak data sesuai dengan persamaan atau perbedaan yang dikandungnya dinamakan klasifikasi
  • Metode Pengumpulan Data
  1. Metode Observasi “Metode observasi merupakan metode pengumpul data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki” (Supardi, 2006 : 88). Observasi dilakukan menurut prosedur dan aturan tertentu sehingga dapat diulangi kembali oleh peneliti dan hasil observasi memberikan kemungkinan untuk ditafsirkan secara ilmiah. Secara umum observasi dapat dilakukan dengan cara yaitu: 
a. Observasi Partisipan. “Observasi partisipan adalah apabila observasi (orang yang melakukan observasi) turut ambil bagian atau berada dalam keadaan obyek yang diobservas” (Supardi, 2006 : 91). 
b. Observasi Non Partisipan. Merupakan suatu “proses pengamatan observer tanpa ikut dalam kehidupan orang yang diobservasi dan secara terpisah berkedudukan sebagai pengamat” (Margono, 2005 : 161-162).
c. Focus Group Discussion. Focus Group Discussion (FGD) adalah teknik pengumpulan data yang umumnya dilakukan pada penelitian kualitatif dengan tujuan menemukan makna sebuah tema menurut pemahaman sebuah kelompok. Teknik ini digunakan untuk mengungkap permaknaan dari suatu kelompok berdasarkan hasil diskusi yang terpusat pada suatu permasalahan tertentu. FGD juga dimaksudkan untuk menghindari permaknaan yang salah dari seorang peneliti terhadap focus masalah yang sedang diteliti (Sutopo, 2006:73). 

       2. Metode Pengumpulan Data  - Teknik Kuesioner.
Angket atau kuesioner merupakan suatu teknik pengumpulan data secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden). Instrumen atau alat pengumpulan datanya juga disebut angket berisi sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau direspon oleh responden (Sutopo, 2006: 82). Responden mempunyai kebebasan untuk memberikan jawaban atau respon sesuai dengan persepsinya.
Angket atau kuesioner merupakan suatu teknik pengumpulan data secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden). Instrumen atau alat pengumpulan datanya juga disebut angket berisi sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau direspon oleh responden (Sutopo, 2006: 82). Responden mempunyai kebebasan untuk memberikan jawaban atau respon sesuai dengan persepsinya.
      3. Metode Pengumpulan Data  - Teknik Dokumen.
Kata dokumen berasal dari bahasa latin yaitu docere, yang berati mengajar. Pengertian dari kata dokumen menurut Louis Gottschalk (1986: 38) seringkali digunakan para ahli dalam dua pengertian, yaitu pertama, berarti sumber tertulis  bagi informasi sejarah sebagai kebalikan daripada kesaksian lisan, artefak, peninggalan-peninggalan terlukis, dan petilasan-petilasan arkeologis. Pengertian kedua, diperuntukan bagi surat-surat resmi dan surat-surat negara seperti surat perjanjian, undang-undang, hibah, konsesi, dan lainnya. Lebih lanjut, Gottschalk menyatakan bahwa dokumen (dokumentasi) dalam pengertianya yang lebih luas berupa setiap proses pembuktian yang didasarkan atas jenis sumber apapun, baik itu yang berupa tulisan, lisan, gambaran, atau arkeologis.
      4. Metode Pengumpulan Data - Teknik Triangulasi.
Triangulasi merupakan cara pemeriksaan keabsahan data yang paling umum digunakan. Cara ini dilakukan dengan memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Dalam kaitan ini Patton (dalam Sutopo, 2006: 92) menjelaskan teknik triangulasi yang dapat digunakan. Teknik triangulasi yang dapat digunakan menurut Patton meliputi: a) triangulasi data; b) triangulasi peneliti; c) triangulasi metodologis; d) triangulasi teoretis. Pada dasarnya triangulasi merupakan teknik yang didasari pola pikir fenomenologi yang bersifat multi perspektif. Artinya, guna menarik suatu kesimpulan yang mantap diperlukan berbagai sudut pandang berbeda.
      5. Metode Wawancara
Metode wawancara adalah “proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dalam mana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan-keterangan” (Supardi, 2006 : 99). Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa “wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yaitu wawancara yang akan mengajukan pertanyaan dan orang yang akan diwawancarai yang akan memberikan jawaban atas pertanyaan yang akan diajukan” (Moleong, 2005 : 186).
  • Metode Analisis Data
Teknik analisis data meliputi:
a. Mengelompokkan data berdasarkan variable dan jenis responden,
b. Mentabulasi data berdasarkan variable dari seluruh responden,
c. Menyajikan data setiap variable yang diteliti,
d. Melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah penelitian,
e. Melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.

Macam-macam statistic untuk analisis data:
  1. Statistik deskriptif : menganalisis data dengan cara mendeskripsikan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud melakukan generalisasi.
  2. Statistik inferensial : menganalisis data berdasarkan sampel dengan maksud untuk mengambil kesimpulan/generalisasi terhadap populasi.

Sumber:
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._KURIKULUM_DAN_TEK._PENDIDIKAN/196005081985031-TOTO_FATHONI/TEKNIK__ANALISIS__DATA.pdf
http://id.wikipedia.org/wiki/Metodologi_penelitian
http://www.buatskripsi.com/2011/02/rumusan-masalah-tujuan-manfaat.html
http://www.sarjanaku.com/2013/01/metode-pengumpulan-data-teknik.html
www.mdp.ac.id/materi/2011-2012-1/SP240/.../SP240-052103-849-5.ppt


Contoh Proposal

BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang Masalah
     Kuliner adalah salah satu industri bisnis yang tidak luput dari perhatian masyarakat Indonesia terutama di kota-kota besar. Mengapa begitu? Karena setiap orang akan selalu mengkonsumsi makanan sebagai kebutuhan primer mereka. Oleh karena itu bisnis kuliner saat ini banyak yang telah menuai keberhasilan. Salah satu bisnis kuliner yang telah menuai keberhasilan adalah restaurant atau café yang menyajikan atau menjual makanan-makanan ringan (cemilan) yang bisa yang dapat dinikmati langsung di tempat ataupun di bawa pulang (take away).
     Dewasa ini, masyarakat Indonesia lebih suka menghabiskan waktu istirahat atau libur mereka dengan berkumpul bersama keluarga, mengisis waktu luang bersama rekan kerja atau teman di café untuk sekedar berbincang-bincang. Beberapa diantara mereka memang ada kepentingan masalah pekerjaan (meeting) tetapi juga ada yang hanya ingin hanging out. Bagi masyarakat yang memiliki kelas social menengah hingga menengah keatas dengan gaya hidup modern mereka lebih memilih hanging out di café yang sudah memiliki merek yang sudah terkenal luas (nama besar). Bagi masyarakat menengah kebawah mungkin merek merupakan hanya sebuah nama untuk membedakan produk yang satu dengan yang lainnya. Berbeda dengan masyarakat menengah hingga menengah atas merek sangat berpengaruh terhadap keputusan pembelian, karena dengan sudah dikenal luasnya merek tersebut berarti dapat memberikan citra yang positif terhadap konsumen.
     Ekuitas merek (bahasa Inggris: brand equity) adalah seperangkat aset dan keterpercayaan merek yang terkait dengan merek tertentu, nama dan atau simbol, yang mampu menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh sebuah produk atau jasa, baik bagi pemasar/perusahaan maupun pelanggan.
Bagi pelanggan, ekuitas merek dapat memberikan nilai dalam memperkuat pemahaman mereka akan proses informasi, memupuk rasa percaya diri dalam pembelian, serta meningkatkan pencapaian kepuasan. Nilai ekuitas merek bagi pemasar/perusahaan dapat mempertinggi keberhasilan program pemasaran dalam memikat konsumen baru atau merangkul konsumen lama. Hal ini dimungkinkan karena dengan merek yang telah dikenal maka promosi yang dilakukan akan lebih efektif (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Ekuitas_merek).
    Ekuitas merek yang terjadi pada bisnis kuliner memiliki peranan yang sangat menarik salah satunya adalah J.CO Donuts & Coffee yang dimiliki dan dikelola oleh Johnny Andrean Group yang dapat ditemui hampir diseluruh Indonesia bahkan di negara lain. J.CO Donuts & Coffee juga menawarkan beberapa jenis produk seperti donut, kopi, coklat, dan juga yogurt. J.CO Donuts & Coffee mengandalkan pelayanan dan kualitas terbaik bagi para konsumennya. J.CO Donuts & Coffee memberikan tempat yang nyaman bagi para pelanggannya yang ingin menikmati produknya langsung ditempat tersebut.
     J.CO Donuts & Coffee tidak hanya digemari anak muda yang menjadikan hanging out di café sebagai gaya hidupnya tetapi juga banyak orang tua yang menyukai produk tersebut karena banyak varian rasa yang dapat dipilih dan juga banyak mempunyai outlet yang bisa ditemui pada beberapa pusat perbelanjaan ternama.
   Konsumen sebelum membeli suatu produk harus terlebih dahulu membuat keputusan yang berkaitan dengan produk tersebut, seperti kapan dan dimana proses pembelian produk tersebut dilakukan. Jadi, sebagai konsumen proses pengambilan keputusan sangat diperlukan sebelum kita membeli suatu produk tertentu, agar produk yang kita beli dapat dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan dan tidak sia-sia.
   Berdasarkan atas realita tersebut penulis merasa tertarik serta menganggap penting untuk memahami dan menganalisis lebih jauh lagi mengenai kesadaran merek, persepsi kualitas, asosiasi merek, dan juga loyalitas merek J.CO Donuts & Coffee yang telah disadari oleh konsumen untuk memilih melakukan keputusan pembelian produk tersebut karena banyak ditemui di mal-mal besar termasuk Margo City yang berada di kawasan Depok, Jawa Barat. Cara yang paling tepat adalah dengan mempelajari pengaruh-pengaruh ekuitas merek terhadap keputusan pembelian konsumen. Dan juga hal ini dapat diketahui dengan cara memberikan sejumlah pertanyaan kepada konsumen yang membeli produk tersebut.
    Oleh karena itu penulis akan melakukan penelitian yang berjudul : “Analisis Pengaruh Ekuitas Merek Terhadap Keputusan Pembelian J.CO Donuts & Coffee (Studi kasus : Konsumen J.CO Donuts & Coffee di Margo City) .”

1.2. Rumusan dan Batasan Masalah

1.2.1. Rumusan Masalah
    Sesuai dengan latar belakang masalah yang telah dijelaskan diatas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah brand awareness (kesadaran merek) mempengaruhi konsumen mengambil keputusan untuk membeli J.CO Donuts & Coffee?
2. Apakah perceived quality (persepsi kualitas) mempengaruhi konsumen mengambil keputusan untuk membeli J.CO Donuts & Coffee?
3. Apakah brand association (asosiasi merek) mempengaruhi konsumen mengambil keputusan untuk membeli J.CO Donuts & Coffee?
4. Apakah brand loyalty (loyalitas merek) mempengaruhi konsumen mengambil keputusan untuk membeli J.CO Donuts & Coffee?

1.2.2. Batasan Masalah
1. Penelitian ini difokuskan kepada J.CO Donuts & Coffee di Margo city.
2. Subyek penelitian ini adalah konsumen J.CO Donuts & Coffee.

1.3. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui pengaruh brand awareness (kesadaran merek) terhadap keputusan pembelian.
2. Mengetahui pengaruh perceived quality (persepsi kualitas) terhadap keputusan pembelian.
3. Mengetahui pengaruh brand association (asosiasi merek) terhadap keputusan pembelian.
4. Mengetahui pengaruh brand loyalty (loyalitas merek) terhadap keputusan pembelian.

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi dan ilmu pengetahuan serta sebagai bahan referensi bagi setiap orang.
1.4.2. Manfaat Praktisi
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai rekomendasi bagi perusahaan atau seseorang yang ingin menjalankan bisnisnya yang berkaitan denagn pemasaran mengenai pengaruh kesadaran merek, persepsi kualitas, asosiasi merek, dan layalitas merek terhadap keputusan pembelian.

1.5. Metode Penelitian

1.5.1. Objek penelitian
Yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah produk J.CO Donuts & Cooffee.

1.5.2. Variable penelitian
Pada penelitian ini yang menjadi variable (X) adalah dimensi dari Ekuiitas Merek yaitu Brand Awareness (kesadaran merek), Perceived Quality (persepsi kualitas), Brand Association (asosiasi merek), dan Brand Loyalty (loyalitas merek) sedangkan yang menjadi variable (Y) adalah Keputusan Pembelian.

1.5.3. Metode pengumpulan data

    Metode pengumpulan data yang akan dilakukan adalah metode observasi dengan cara menyebarkan kuesioner kepada para responden.

1.5.4. Hipotesis

H1 : Brand awareness mempengaruhi keputusan pembelian produk J.CO Donuts & Coffee secara signifikan
H2 : Perceived quality mempengaruhi keputusan pembelian produk J.CO Donuts & Coffee secara signifikan
H3 : Brand association mempengaruhi keputusan pembelian produk J.CO Donuts & Coffee secara signifikan
H4 : Brand loyalty mempengaruhi keputusan pembelian produk J.CO Donuts & Coffee secara signifikan

1.5.5. Alat analisis yang digunakan

     Alat analisis yang akan digunakan adalah Uji Validitas, Uji Reliabilitas, Uji Asumsi Klasik (Uji Multikolinieritas dan Uji Autokorelasi), Uji Analisis Regresi Linier Berganda, Uji Goodness of Fit (Uji Signifikansi Simultan (F) dan Uji Parsial (t)) dengan menggunakan software SPSS (Statistical Package for Social Science) untuk penghitungannya.

Sabtu, 04 Mei 2013

DATA, SAMPEL, DAN VARIABEL

1. Pengertian Data

Data adalah catatan atas kumpulan fakta. Data merupakan bentuk jamak dari datum, berasal dari bahasa Latin yang berarti "sesuatu yang diberikan". Dalam penggunaan sehari-hari data berarti suatu pernyataan yang diterima secara apa adanya. Pernyataan ini adalah hasil pengukuran atau pengamatan suatu variabel yang bentuknya dapat berupa angka, kata-kata, atau citra.
Dalam keilmuan (ilmiah), fakta dikumpulkan untuk menjadi data. Data kemudian diolah sehingga dapat diutarakan secara jelas dan tepat sehingga dapat dimengerti oleh orang lain yang tidak langsung mengalaminya sendiri, hal ini dinamakan deskripsi. Pemilahan banyak data sesuai dengan persamaan atau perbedaan yang dikandungnya dinamakan klasifikasi.

2. Cara Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Ada beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam pengumpulan data, yaitu :
a. Alat pengumpulan data ( instrument ) haus seua dan mampu menghasilkan data yang diinginkan.
b. Kualifikasi dan pengalaman pengumpulan data.
c. Situasi lapangan sangat mempengaruhi kelancaran proses pengumpulan data.
Ada beberapa metode pengumpulan data, yaitu :
a. Metode observasi
b. Metode wawancara
c. Metode kuesioner
d. Metode khusus, yaitu metode proyektif dan metode sosiometri

3. Jenis Data

Data penelitian merupakan faktor yang sangat mempengaruhi teknik atau jenis penelitian yang akan digunakan. Dalam statistik dikenal beberapa jenis data antara lain :
a. Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata, penjelasan, pendapat,gambar. Data kualitatif ini dalam penelitian sering juga dirubah menjadi datakuantitatif misalnya pada jawaban kuesioner yang dibuat scoring.
b. Data Kuantatif adalah data yang berbentuk angka, misalnya jumlah nilaimatematika, jumlah penjualan, dll.
c. Data Kontinum adalah data yang bervariasi menurut tingkatan dan inidiperoleh melalui hasil pengukuran. Data kontinum ini dibagi lagi menjadi 3 jenis yaitu :
• Data nominal adalah data yang digunakan untuk mengidentifikasiobjek, individu, atau kelompok
• Data ordinal adalah data yang berbentuk peringkat.
• Data interval adalah data yang sama seperti nominal dan ordinal namun mempunyai karakteristik tetap dan dapat dinotasikan dalam fungsimatematika.
• Data rasio adalah data angka sebenarnya, berjarak sama dan dapatdinotasikan dalam fungsi matematika


4. Pengertian Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang diharapkan mampu mewakili populasi dalam penelitian. Dalam penyusunan sampel perlu disusun kerangka sampling yaitu daftar dari semua unsur sampling dalam populasi sampling, dengan syarat:
a. Harus meliputi seluruh unsur sampel
b. Tidak ada unsur sampel yang dihitung dua kali
c. Harus up to date
d. Batas-batasnya harus jelas
e. Harus dapat dilacak dilapangan

Menurut Teken (dalam Masri Singarimbun dan Sofyan Efendi) Ciri-ciri sample yang ideal adalah:
a. Dapat menghasilkan gambaran yang dipercaya dari seluruh populasi yang diteliti
b. Dapat menentukan presisi (precision) dari hasil penelitian dengan menentukan penyimpangan baku (standar) dari taksiran yang diperoleh
c. Sederhana, sehingga mudah dilaksanakan
d. Dapat memberikan keterangan sebanyak mungkin dengan biaya yang rendah....
Ada empat faktor yang harus diperhatikan dalam penentuan besar kecilnya sampel, antara lain:
a. Degree of homogenity dari populasi, makin homogin populasi makin sedikit jumlah sampel yang diambil
b. Pressisi yang dikehendaki, makin tinggi tingkat pressisi yang dikehendaki makin banyak jumlah sampel yang diambil
c. Rencana analisa
d. Tenaga biaya dan waktu

5. Teknik Pengambilan Sampel

Ada beberapa teknik dalam pengambilan sampel, namun secara garis besar dapat dibagi menjadi dua:
• Probability Sampling atau Random Sampling
a. Simple random sampling, pengambilan sample secara acak sederhana, ialah sebuah sample yang diambil sedemikian rupa sehingga tiap unit penelitian atau satuan elemen dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sample. Metode yang digunakan dengan cara (1) undian (digoncang seperti arisan), (2) ordinal (angka kelipatan), (3)tabel bilangan random
b. Proportionate stratified random sampling, misal dengan siswa sebagai sampelnya,…maka perlu ada kalsifikasi siswa berdasar strata (misal kelas I, II dan III)
c. Disproportional stratified random sampling,..
d. Area Sampling, teknik pengambilan sample berdasar wilayah
e. Kluster sampling, teknik pengambilan sample berdasar gugus atau clusters, misal: sebuah penelitian ingin mengetahui pendapatan keluarga dalam suatu desa, dengan berbagai klaster, missal dari segi pekerjaan: Tani, Buruh, PNS, Nelayan
• Non-Probability Sampling.
Non probability sampling terdiri dari:
a. Sampling sistematis, yaitu memilih sampel dari suatu urutan daftar menurut urutan tertentu, missal tiap individu urutan no ke-n (10, 15, 20 dst)
b. Sampling kuota, (quota sampling), teknik sampling yang didasarkan pada terpenuhinya jumlah sample yang diinginkan (ditentukan)
c. Sampling aksidental, sample yang diambil dari siapa saja yang kebetulan ada, misalnya dengan menanyai siapa saja yang ditemui dijalan…untuk meminta pendapat tentang kenaikan harga sembako
d. Purposive sampling, teknik pengambilan sample didasrkan atas tujuan tertentu. (orang yang dipilih betul-betul memiliki kriteria sebagai sampel)
e. Sampling jenuh (sensus),
f. Snowball sampling, dimulai dari kelompok kecil yang diminta untuk menunjukkan kawan masing-masing. Kemudian kawan tesrebut diminta untuk menunjukkan kawannya lagi dan seterusnya sampai secukupnya.

6. Pengertian Variabel


Variabel adalah suatu besaran yang dapat diubah atau berubah sehingga mempengaruhi peristiwa atau hasil penelitian. Dengan menggunakan variabel, kita akan mmeperoleh lebih mudah memahami permasalahan. Hal ini dikarenakan kita seolah-olah seudah mendapatkan jawabannya. Biasanya bentuk soal yang menggunakan teknik ini adalah soal counting (menghitung) atau menentuakan suatu bilangan. Dalam penelitian sains, variable adalah bagian penting yang tidak bisa dihilangkan.

Berikut ini adalah pengertian dan definisi variabel:

• SUTRISNO HADI
Variabel adalah objek penelitian yang bervariasi, misalnya jenis kelamin karena jenis kelamin mempunyai variasi laki-laki dan perempuan

• FREDDY RANGKUTI
Variabel adalah konsep yang emmpunyai variasi nilai, maka nilai variabel dapat dibedakan menjadi empat tingkatan skala, yaitu: nominal, ordinal, internal, dan rasio.

7. Macam-macam Variabel

Macam-macam Variabel:
1. Variabel Kuantitatif.
a. Variabel diskrit ( nominal,kategorik) yaitu variabael 2 kutub berlawanan.
b. Variabel kontinum
• Variabel Ordinal : variabel tingkatan. Contoh: Satria terpandai, Raka pandai, Yudit tidak pandai
• Variabel Interval: variabel jarak. Contoh: jarak rumah Anto kesekolah 10 km,
sedangkan Yuli 5 km maka vr intervalnya adalah 5 km.
• Variabel Ratio: variabel perbandingan (sekian kali). Contoh: berat badan Heri 80 kg, sedangkan berat badan Upi 40 kg, maka berat badan Heri 2 kali lipat Upi.
2. Variabel Kualitatif adalah variabel yang menunjukkan suatu intensitas yang sulit diukur dengan angka.
3. Variabel Independen (Pengaruh, Bebas, Stimulus, Prediktor).
Merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat).
4. Variabel Dependen (Dipengaruhi, Terikat, Output, Kriteria, Konsekuen).
Merupakan variabel yang dipengaruhi atau akibat, karena adanya variabel bebas.
5. Variabel Moderator.
Merupakan variabel yang mepengaruhi (memperkuat atau memperlemah) hubungan
antara variabel independen dengan dependen. Variabel ini sering disebut sebagai
variabel independen kedua.
6. Variabel Intervening (Antara).
Merupakan variabel yang menghubungkan antara variabel independen dengan variabel dependen yang dapat memperkuat atau memperlemah hubungan namun tidak dapat diamati atau diukur.
7. Variabel Kontrol.
Merupakan variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga pengaruh variabel independen terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti.


Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Data
http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2225233-cara-mengumpulkan-data-penelitian/#ixzz2SIyS0ouf
http://www.scribd.com/doc/25969031/Jenis-Data-Penelitian
http://contohskripsi-makalah.blogspot.com/2012/04/pengertian-populasi-dan-sampel.html
http://carapedia.com/pengertian_definisi_variabel_info2017.html
http://rickypuspito.blogspot.com/2012/02/macam-macam-variabel-dalam-penelitian.html

Rabu, 24 April 2013

HIPOTESIS

A. Pengertian Hipotesis

1. Menurut Dani Vardiansyah
(2008 : 10), hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya.
2. Menurut Erwan Agus Purwanto dan Dyah Ratih Sulistyastuti (2007:137), hipotesis adalah pernyataan atau dugaan yang bersifat sementara terhadap suatu masalah penelitian yang kebenarannya masih lemah (belum tentu kebenarannya) sehingga harus diuji secara empiris.
3. Menurut Mundilarso (tanpa tahun dan halaman) mengatakan bahwa hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah tingkat kebenarannya sehingga masih harus diuji menggunakan teknik tertentu. Hipotesis dirumuskan berdasarakan teori, dugaan, pengalaman pribadi/orang lain, kesan umum, kesimpulan yang masih sangat sementara. Hipotesis adalah pernyataan keadaan populasi yang akan diuji kebenarannya menggunakan data/informasi yang dikumpulkan melalui sampel.
4. Menurut Trealese (1960) hipotesis adalah suatu keterangan sementara dari suatu fakta yang dapat diamati.
5. Menurut Good dan Scates (1954) mengatakan bahwa hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang diamati ataupun kondisi-kondisi yang diamati dan digunakan sebagai petunjuk untuk langkah-langkah selanjutnya.
6. Menurut Kerlinger (1973) mengatakan hipotesis adalah pernyataan yang bersifat terkaan dari hubungan antara dua atau lebih variabel.
7. Pendapat lain mengatakan hipotesis adalah suatu pernyataan mengenai satu atau lebih populasi yang belum tentu benar atau salah dan perlu diuji kebenarannya.

B. Kegunaan Hipotesis

Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian ilmiah, khususnya penelitian kuantitatif. Terdapat tiga alasan utama yang mendukung pandangan ini, di antaranya:
1. Hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis ini dapat dilihat dari teori yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti. Misalnya, sebab dan akibat dari konflik dapat dijelaskan melalui teori mengenai konflik.
2. Hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak benar atau di falsifikasi.
3. Hipotesis adalah alat yang besar dayanya untuk memajukan pengetahuan karena membuat ilmuwan dapat keluar dari dirinya sendiri. Artinya, hipotesis disusun dan diuji untuk menunjukkan benar atau salahnya dengan cara terbebas dari nilai dan pendapat peneliti yang menyusun dan mengujinya.
Fungsi penting hipotesis di dalam penelitian, yaitu:
1. Untuk menguji teori,
2. Mendorong munculnya teori,
3. Menerangkan fenomena sosial,
4. Sebagai pedoman untuk mengarahkan penelitian,
5. Memberikan kerangka untuk menyusun kesimpulan yang akan dihasilkan.

C. Ciri-ciri Hipotesis yang Baik

Untuk dapat memformulasikan hipotesis yang baik dan benar, sedikitnya harus memiliki beberapa ciri-ciri pokok, yakni:
1. Hipotesis diturunkan dari suatu teori yang disusun untuk menjelaskan masalah dan dinyatakan dalam proposisi-proposisi. Oleh sebab itu, hipotesis merupakan jawaban atau dugaan sementara atas masalah yang dirumuskan atau searah dengan tujuan penelitian.
2. Hipotesis harus dinyatakan secara jelas, dalam istilah yang benar dan secara operasional. Aturan untuk, menguji satu hipotesis secara empiris adalah harus mendefinisikan secara operasional semua variabel dalam hipotesis dan diketahui secara pasti variabel independen dan variabel dependen.
3. Hipotesis menyatakan variasi nilai sehingga dapat diukur secara empiris dan memberikan gambaran mengenai fenomena yang diteliti. Untuk hipotesis deskriptif berarti hipotesis secara jelas menyatakan kondisi, ukuran, atau distribusi suatu variabel atau fenomenanya yang dinyatakan dalam nilai-nilai yang mempunyai makna.
4. Hipotesis harus bebas nilai. Artinya nilai-nilai yang dimiliki peneliti dan preferensi subyektivitas tidak memiliki tempat di dalam pendekatan ilmiah seperti halnya dalam hipotesis.
5. Hipotesis harus dapat diuji. Untuk itu, instrumen harus ada (atau dapat dikembangkan) yang akan menggambarkan ukuran yang valid dari variabel yang diliputi. Kemudian, hipotesis dapat diuji dengan metode yang tersedia yang dapat digunakan untuk mengujinya sebab peneliti dapat merumuskan hipotesis yang bersih, bebas nilai, dan spesifik, serta menemukan bahwa tidak ada metode penelitian untuk mengujinya. Oleh sebab itu, evaluasi hipotesis bergantung pada eksistensi metode-metode untuk mengujinya, baik metode pengamatan, pengumpulan data, analisis data, maupun generalisasi.
6. Hipotesis harus spesifik. Hipotesis harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan sebenarnya. Peneliti harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan yang sebenarnya. Peneliti harus memiliki hubungan eksplisit yang diharapkan di antara variabel dalam istilah arah (seperti, positif dan negatif). Satu hipotesis menyatakan bahwa X berhubungan dengan Y adalah sangat umum. Hubungan antara X dan Y dapat positif atau negatif. Selanjutnya, hubungan tidak bebas dari waktu, ruang, atau unit analisis yang jelas. Jadi, hipotesis akan menekankan hubungan yang diharapkan di antara variabel, sebagaimana kondisi di bawah hubungan yang diharapkan untuk dijelaskan. Sehubungan dengan hal tersebut, teori menjadi penting secara khusus dalam pembentukan hipotesis yang dapat diteliti karena dalam teori dijelaskan arah hubungan antara variabel yang akan dihipotesiskan.
7. Hipotesis harus menyatakan perbedaan atau hubungan antar-variabel. Satu hipotesis yang memuaskan adalah salah satu hubungan yang diharapkan di antara variabel dibuat secara eksplisit.

D. Macam-macam Hipotesis

1. Hipotesis Deskriptif
Hipotesis deskriptif, merupakan dugaan terhadap nilai satu variabel dalam satu sampel walaupun di dalamnya bisa terdapat beberapa kategori.
2. Hipotesis Korelasional/hubungan
Hipotesis korelasional adalah hipotesis yang berisi pernyataan tentang hubungan antara dua atau lebih variabel. Jika pola hubungan antara dua atau lebih variabel bersifat kausal (sebab-akibat) , maka hipotesisnya disebut hipotesis kausalitas
Hipotesis Korelasional terdiri dari hipotesis kausal dan korelasi
a. Hipotesis Kausalitas
b. Hipotesis korelasi (correlational hypothesis), merupakan hipotesis yang mengatakan dua variabel terjadi bersamaantanpa diketahui mana yang mempengaruhi yang lainnya.
3. Hipotesis asosiasi
Pengukurana asosiasi merupakan istilah umum yang mengacu pada sekelompok teknik dalam statistik bivariat yang digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel
Hipotesa Kerja (Hk) dan Hipotesa Nol (Ho)
Hipotesa-hipotesa yang dirumuskan oleh peneliti, baik yang bersifat deskriftif, relasional maupun hipotesa kausalitas disebut hipotesa kerja (Hk). Supaya hipotesa kerja tersebut dapat diuji secara statistik, maka diperlukan suatu hipotesa pembanding. Dalam penelitian sosial hipotesa pembanding tersebut dibuat secara arbritrer yang berbentuk hipotesa nol (Ho). Hipotesa nol (Ho) adalah formulasi/rumusan terbalik dari hipotesa kerja (Effendi, 1989:43-45).

Sumber :
http://arimjie.blogspot.com/2012/05/jenis-jenis-hipotesis.html
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2286061-pengertian-hipotesis-menurut-para-ahli/#ixzz2RM2ysVIw
http://id.wikipedia.org/wiki/Hipotesis

Sabtu, 13 April 2013

METODE ILMIAH

PENGERTIAN METODE ILMIAH

Metode ilmiah boleh dikatakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh interelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilmiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan kesangsian sistematis. Karena itu, penelitian dan metode ilmiah mempunyai hubungan yang dekat sekali, jika tidak dikatakan sama. Dengan adanya metode ilmiah, pertanyaan-pertanyaan dalam mencari dalil umum akan mudah terjawab, seperti menjawab seberapa jauh, mengapa begitu, apakah benar, dan sebagainya.
Menurut Almadk (1939), ”metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran.”
Sedangkan Ostle (1975) berpendapat bahwa “metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatu interelasi.”
Metode ilmiah dalam meneliti mempunyai kriteria serta langkah-langkah tertentu dalam Metode ilmiah bekerja. seperti di bawah ini.

KARAKTERISTIK METODE ILMIAH

a. Bersifat kritis, analistis, artinya metode menunjukkan adanya proses yang tepat untuk mengidentifikasi masalah dan menentukan metode untuk pemecahan masalah.
b. Bersifat logis, artinya dapat memberikan argumentasi ilmiah. Kesimpulan yang dibuat secara rasional berdasarkan bukti-bukti yang tersedia.
c. Bersifat obyektif, artinya dapat dicontoh oleh ilmuwan lain dalam studi yang sama dengan kondisi yang sama pula.
d. Bersifat konseptual, artinya proses penelitian dijalankan dengan pengembangan konsep dan teori agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
e. Bersifat empiris, artinya metode yang dipakai didasarkan pada fakta dilapangan.

LANGKAH-LANGKAH METODE ILMIAH

a. Menyusun Rumusan MasalahMenyusun Rumusan Masalah
b. Menyusun Kerangka TeoriMenyusun Kerangka Teori
c. Merumuskan TeoriMerumuskan Teori
d. Melakukan EksperimenMelakukan Eksperimen
e. Mengolah dan Menganalisis DataMengolah dan Menganalisis Data
f. Menarik KesimpulanMenarik Kesimpulan
g. Mempublikasikan HasilMempublikasikan Hasil



Sumber :
http://acilloina.files.wordpress.com/2013/02/kuliah-2-metode-ilmiah-ok-ok.pdf
http://dossuwanda.wordpress.com/2008/03/29/apakah-yang-dimaksud-dengan-metode-ilmiah/
http://www.scribd.com/doc/29546069/Langkah-%E2%80%93-Langkah-Metode-Ilmiah

Rabu, 03 April 2013

KARYA TULIS ILMIAH, POPULER, DAN NON-ILMIAH

KARYA TULIS ILMIAH

1. Pengertian
Karya tulis ilmiah adalah suatu tulisan yang membahas suatu per- masalahan. Pembahasan itu dilakukan berdasarkan penyelidikan, pengamat- an, pengumpulan data yang diperoleh melalui suatu penelitian. Karya tulis ilmiah melalui penelitian ini menggunakan metode ilmiah yang sistematis untuk memperoleh jawaban secara ilmiah terhadap permasalahan yang diteliti. Untuk memperjelas jawaban ilmiah berdasarkan penelitian, penulisan karya tulis ilmiah hanya dapat dilakukan sesudah timbul suatu masalah, yang kemudian dibahas melalui penelitian dan kesimpulan dari penelitian tersebut.

2. Ciri-ciri Karya Tulis Ilmiah :
a. Menyajikan fakta obyektif secara sistematis
b. Penulisannya cermat, tepat, dan benar serta tulus
c. Tidak mengejar keuntungan pribadi, yaitu tidak berambisi agar pembaca berpihak kepadanya
d. Sistematis, terkendali, konseptual, dan procedural
e. Tidak emotif (tidak menonjolkan perasaan)
f. Tidak memuat pandangan-pandangan tanpa pendukung (kecuali hipotesis kerja)
g. Memuat kebenaran-kebenaran
h. Tidak argumentative
i. Tidak persuasive
j. Tidak melebih-lebihkan sesuatu

3. Jenis Karya Tulis Ilmiah
• Abstrak
• Ringkasan
• Ikhtisar
• Tinjauan buku
• Kritik
• Makalah pemikiran
• Laporan analisis
• Makalah pendirian
• Makalah opini
• Laporan eksekutif
• Tanggapan
• Kertas kerja
• Makalah proyek
• Laporan kegiatan
• Laporan status
• Laporan kepustakaan
• Rekaman fakta
• Makalah ilmiah
• Risalah
• Kolokium
• Studi kasus
• Laporan penelitian
• Skripsi
• Tesis
• Disertasi

4. Prinsip Karya Tulis Ilmiah
• Spesifik
• Kesinambungan
• Bernas (bahasa)
• Koherens
• Memiliki daya tarik
• Jujur

5. Sistematika Penulisan Karya Tulis Ilmiah
a. Bagian Pengantar
• Halaman judul,
• Lembar pengesahan,
• Pengantar,
• Daftar isi,
• Daftar tabel,
• Daftar lampiran,
• Abstrak
b. Isi Karya Tulis Ilmiah
• Bab I. pendahuluan (latar belakang, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, asumsi dan hipotesis)
• Bab II. Kajian teoritis
• Bab III. Metodologi penelitian/prosedur penelitian (tempat dan waktu penelitian, metode peneltian, teknik pengambilan contoh/sampel, teknik pengumpulan data, teknik analisis data)
• Bab IV. Pembahasan dan hasil penelitian (deskripsi variable penlitian, pengujian persyaratan analisis, pengujian hipotesis, penafsiran, kesimpulan pengujian hipotesis)
• Bab V. kesimpulan, implikasi, dan saran
c. Bagian pelengkap
• Daftra pustaka
• Lampiran-lampiran
• Riwayat hidup peneliti

KARYA TULIS NON-ILMIAH

1. Pengertian
Karya tulis non-ilmiah adalah karangan yang ditujukan kepada msyarakat umum yang isinya tentang pengetahuan, cerita, rekaan, atau apa saja dengan teknik penyajian yang sederhana mengenai hal-hal tentang kehidupan sehari-hari.

2. Ciri-ciri Karya Tulis Non-ilmiah
a. Non Teknis Konkrit : Informatif, bernada populer, imajinatif, dll
b. Teknis Umum : Informatif,umum, tidak untuk kepentingan pribadi, masalah secara umum, tidak ada ajakan emosional, konkrit, dll
c. Abstrak normal : Informatif, umum, non teknis,Tidak untuk kepentingan pribadi, populer, dll
d. Spesifik Historis : Spesifik,sumber sejarah, bahasa dan susunan formal, dll
e. Emotif : sedikit informasi, tidak sistematis, dll
f. Persuasif : Cukup informatif, penilaian fakta tidak dengan bukti, bujukan untuk meyakinkan pembaca,dll
g. Deskriptif : Informasi sebagian imajinatif dan subyektif,pendapat pribadi, nampaknya dapat dipercaya
h. Kritik : Tanpa dukungan bukti :tidak memuat informasi spesifik, berprasangka menguntungkan, formal, dll

3. Sifat-sifat Karya Tulis Non-ilmiah
a. Emotif: kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi.
b. Persuasif: penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informatif
c. Deskriptif: pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif.
d. Jika kritik adakalanya tanpa dukungan bukti.

4. Contoh Karya Tulis Non-ilmiah
a. Dongeng
b. Cerpen
c. Novel
d. Drama
e. Roman
f. Anekdot
g. Opini
h. Hikayat


KARYA TULIS SEMI ILMIAH (POPULER)

1. Pengertian
Karya tulis ilmiah popular yaitu pengetahuan ilmiah yang disajikan dengan tampilan format dan bahasa yang lebih enak dibaca dan dipahami, fakta yang disajikan harus tetap obyektif dan dijiwai dengan kebenaran dan metode berpikir keilmuan (Suhardjono : 35).
Jadi karya tulis ilmiah populer adalah pengetahuan ilmiah yang disajikan dengan menggunakan bahasa dan kerangka sajian isi yang lebih menarik dan mudah dipahami.
Karya ilmiah populer non penelitian : biasanya dikirim ke media masa seperti surat kabar, majalah, dan bulletin.
Karya ilmiah popular hasil penelitian : merupakan karya tulis hasil penelitian, dikirim ke media massa seperti surat kabar, majalah, jurnal ilmiah, dan bulletin.

2. Ciri-ciri Karya Tulis Ilmiah Populer
a. Bahan : Menyajikan fakta objektif
b. Penyajian : Menggunakan bahasa yang cermat,tidak terlalu formal tapi tetap taat asas, disusun secara sistematis; tidak memuat hipotesis.
c. Sikap Penulis : Tidak memancing pertanyaan – pertanyaan yang meragukan, mengimbau perasaan pembaca agar seolah – olah mereka menghindari sendiri.
d. Penyimpulan :Memberikan fakta bebicara sendiri sekalipun didahului dengan membimbing dan mendorong pembacanya untuk berpikir tentang aplikasi.

3. Contoh karya tulis ilmiah populer yang biasanya termuat dalam majalah, koran, tabloid,dll antara lain :
a. Artikel
b. Feature
c. Kritik
d. Esai
e. Resensi
f. Editorial



SIKAP YANG DIMILIKI SEORANG INTELEKTUAL (ILMIAH)

Menurut Baharuddin (1982:34) mengemukakan bahwa : ”Sikap ilmiah pada dasarnya adalah sikap yang diperlihatkan oleh para Ilmuwan saat mereka melakukan kegiatan sebagai seorang ilmuwan. Dengan perkataan lain kecendrungan individu untuk bertindak atau berprilaku dalam memecahkan suatu masalah secara sistematis melalui langkah-langkah ilmiah.
Mukayat Brotowidjoyo (1985 :31-34) yang biasa dilakukan para ahli dalam menyelesaikan masalah berdasarkan metode ilmiah, antara Lain :
a. Sikap ingin tahu : apabila menghadapi suatu masalah yang baru dikenalnya,maka ia berusaha mengetahuinya, senang mengajukan pertanyaan tentang obyek dan peristiwa, kebiasaan menggunakan alat indera sebanyak mungkin untuk menyelidiki suatu masalah, memperlihatkan gairah dan kesungguhan dalam menyelesaikan eksprimen.
b. Sikap kritis : Tidak langsung begitu saja menerima kesimpulan tanpa ada bukti yang kuat, kebiasaan menggunakan bukti – bukti pada waktu menarik kesimpulan, tidak merasa paling benar yang harus diikuti oleh orang lain, bersedia mengubah pendapatnya berdasarkan bukti-bukti yang kuat.
c. Sikap obyektif : Melihat sesuatu sebagaimana adanya obyek itu, menjauhkan bias pribadi dan tidak dikuasai oleh pikirannya sendiri. Dengan kata lain mereka dapat mengatakan secara jujur dan menjauhkan kepentingan dirinya sebagai subjek.
d. Sikap ingin menemukan : Selalu memberikan saran-saran untuk eksprimen baru; kebiasaan menggunakan eksprimen-eksprimen dengan cara yang baik dan konstruktif, selalu memberikan konsultasi yang baru dari pengamatan yang dilakukannya.
e. Sikap menghargai karya orang lain, Tidak akan mengakui dan memandang karya orang lain sebagai karyanya, menerima kebenaran ilmiah walaupun ditemukan oleh orang atau bangsa lain.
f. Sikap tekun : Tidak bosan mengadakan penyelidikan, bersedia mengulangi eksprimen yang hasilnya meragukan’ tidak akan berhenti melakukan kegiatan –kegiatan apabila belum selesai; terhadap hal-hal yang ingin diketahuinya ia berusaha bekerja dengan teliti.
g. Sikap terbuka : Bersedia mendengarkan argumen orang lain sekalipun berbeda dengan apa yang diketahuinya.buka menerima kritikan dan respon negatif terhadap pendapatnya.

Lebih rinci Diederich mengidentifikasikan 20 komponen sikap ilmiah sebagai berikut :

a. Selalu meragukan sesuatu.
b. Percaya akan kemungkinan penyelesaian masalah.
c. Selalu menginginkan adanya verifikasi eksprimental.
d. T e k u n.
e. Suka pada sesuatu yang baru.
f. Mudah mengubah pendapat atau opini.
g. Loyal etrhadap kebenaran.
h. Objektif
i. Enggan mempercayai takhyul.
j. Menyukai penjelasan ilmiah.
k. Selalu berusaha melengkapi penegathuan yang dimilikinya.
l. Tidak tergesa-gesa mengambil keputusan.
m. Dapat membedakan antara hipotesis dan solusi.
n. Menyadari perlunya asumsi.
o. Pendapatnya bersifat fundamental.
p. Menghargai struktur teoritis
q. Menghargai kuantifikasi
r. Dapat menerima penegrtian kebolehjadian dan,
s. Dapat menerima pengertian generalisasi


Sumber :

http://file.upi.edu/Direktori/FPOK/JUR._PEND._OLAHRAGA/196506141990011-YUNYUN_YUDIANA/KARYA_TULIS_ILMIAH.pdf
http://www.m-edukasi.web.id/2012/06/pengertian-karya-tulis-ilmiah.html
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._MATEMATIKA/196808231994032-SITI_FATIMAH/19_KTI-PLPG.pdf
http://www.slideshare.net/shofii92/karya-tulis-ilmiah-populer-6715144
http://manajemenpendidikantisyah.blogspot.com/2013/02/karya-tulis-ilmiahnon-ilmiahsemi-ilmiah.html
http://blogbahrul.wordpress.com/2007/11/28/sikap-ilmiah/

Senin, 25 Maret 2013

PENALARAN DEDUKTIF

Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.

Pembuktian melalui deduksi adalah sebuah jalan pemikiran yang menggunakan argumen-argumen deduktif untuk beralih dari premis-premis yang ada, yang dianggap benar, kepada kesimpulan-kesimpulan, yang mestinya benar apabila premis-premisnya benar.
Contoh klasik dari penalaran deduktif, yang diberikan oleh Aristoteles, ialah
• Semua manusia fana (pasti akan mati). (premis mayor)
• Sokrates adalah manusia. (premis minor)
• Sokrates pasti (akan) mati. (kesimpulan)

Untuk pembahasan deduktif secara terinci seperti yang dipahami dalam filsafat, lihat Logika. Untuk pembahasan teknis tentang deduksi seperti yang dipahami dalam matematika, lihat logika matematika.
Penalaran deduktif seringkali dikontraskan dengan penalaran induktif, yang menggunakan sejumlah besar contoh partikulir lalu mengambil kesimpulan umum.

Penalaran deduktif dikembangkan oleh Aristoteles, Thales, Pythagoras, dan para filsuf Yunani lainnya dari Periode Klasik (600-300 SM.). Aristoteles, misalnya, menceritakan bagaimana Thales menggunakan kecakapannya untuk mendeduksikan bahwa musim panen zaitun pada musim berikutnya akan sangat berlimpah. Karena itu ia membeli semua alat penggiling zaitun dan memperoleh keuntungan besar ketika panen zaitun yang melimpah itu benar-benar terjadi.
Penalaran deduktif tergantung pada premisnya. Artinya, premis yang salah mungkin akan membawa kita kepada hasil yang salah, dan premis yang tidak tepat juga akan menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat.

Alternatif dari penalaran deduktif adalah penalaran induktif. Perbedaan dasar di antara keduanya dapat disimpulkan dari dinamika deduktif tengan progresi secara logis dari bukti-bukti umum kepada kebenaran atau kesimpulan yang khusus; sementara dengan induksi, dinamika logisnya justru sebaliknya. Penalaran induktif dimulai dengan pengamatan khusus yang diyakini sebagai model yang menunjukkan suatu kebenaran atau prinsip yang dianggap dapat berlaku secara umum.
Penalaran deduktif memberlakukan prinsip-prinsip umum untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang spesifik, sementara penalaran induktif menguji informasi yang spesifik, yang mungkin berupa banyak potongan informasi yang spesifik, untuk menarik suatu kesimpulan umu. Dengan memikirakan fenomena bagaimana apel jatuh dan bagaimana planet-planet bergerak, Isaac Newton menyimpulkan teori daya tarik. Pada abad ke-19, Adams dan LeVerrier menerapkan teori Newton (prinsip umum) untuk mendeduksikan keberadaan, massa, posisi, dan orbit Neptunus (kesimpulan-kesimpulan khusus) tentang gangguan (perturbasi) dalam orbit Uranus yang diamati (data spesifik).

Jenis-jenis Penalaran Deduktif
a. Silogisme
Silogisme merupakan proses penalaran di mana dari dua proposisi (sebagai premis) ditarik suatu proposisi baru (berupa konklusi).
Contoh :
Premis Mayor : Tidak ada manusia yang kekal
Premis Minor : Firaun adalah manusia
Kesimpulan : Firaun tidak kekal.
b. Entimem
Entimem atau Enthymeme berasal dari bahasa Yunani “en” artinya di dalam dan “thymos” artinya pikiran adalah sejenis silogisme yang tidak lengkap, tidak untuk menghasilkan pembuktian ilmiah, tetapi untuk menimbulkan keyakinan dalam sebuah entimem, penghilangan bagian dari argumen karena diasumsikan dalam penggunaan yang lebih luas, istilah “enthymeme” kadang-kadang digunakan untuk menjelaskan argumen yang tidak lengkap dari bentuk selain silogisme. Menurut Aristoteles yang ditulis dalam Retorika, sebuah “retorik silogisme” adalah bertujuan untuk pembujukan yang berdasarkan kemungkinan komunikan berpendapat sedangkan teknik bertujuan untuk pada demonstrasi. Kata lainnya, entimem merupakan silogisme yang diperpendek.


Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran
http://id.wikipedia.org/wiki/Pembuktian_melalui_deduksi
http://1stfauzi.blogspot.com/2012/04/penalaran-deduktif-penalaran-adalah.html